This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

Biduk Kajang Kayuagung

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak jenis perahu. Berdasarkan hasil penelitian arkeologi, sisa-sisa perahu kuno banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka-Belitung. Berdasarkan tipe teknologi, terdapat dua dua tipe teknologi perahu di Indonesia, yaitu perahu tradisi Asia Tenggara dan perahu tipe tradisi Cina Selatan.
Teknologi perahu Asia Tenggara umum ditemukan di wilayah perairan Asia Tenggara. Bukti tertua penggunaan teknik gabungan teknik ikat dan teknik pasak kayu dijumpai pada sisa perahu di Situs Kuala Pontian di Malaysia yang berasal dari antara abad ke-3 dan abad ke-5 Masehi.
Penelitian Sriwijaya yang intensif di Sumatera sejak tahun 1980-1990 juga banyak menemukan sisa-sisa perahu kuno tradisi Asia Tenggara.. Di wilayah Sumatera Selatan, bangkai perahu ditemukan di Situs Samirejo, Mariana (Kabupaten Banyuasin), Situs Kolam Pinisi (Palembang) dan di Situs Tulung Selapan (Kabupaten Ogan Komering Ilir). Di Jambi ditemukan pula papan perahu sejenis di Situs Lambur (Kabupaten Tanjung Jabung Timur), sedangkan di Pulau Bangka jenis perahu semacam itu ditemukan di Situs Kota Kapur (Kabupaten Bangka). Selain papan-papan perahu ditemukan pula kemudi perahu dari kayu besi yang diduga bagian dari teknologi tradisi Asia Tenggara, yaitu di Sungai Buah (Palembang) dan Situs Karangagung Tengah (Kabupaten Musi Banyuasin).
Papan-papan perahu dari Situs Samirejo dan Situs Kolam Pinisi telah dianalisis laboratorium dengan menggunakan metode carbon dating C14. Sepotong papan dari Situs Kolam Pinisi menghasilkan pertanggalan kalibrasi antara 434 dan 631 Masehi, sedangkan papan dari Situs Samirejo berasal dari masa antara 610 dan 775 Masehi (Lucas Partanda Koestoro, 1993).
Ciri-ciri perahu tipe tradisi Asia Tenggara yaitu adanya lubang-lubang yang terdapat di bagian permukaan dan sisi papan serta lubang-lubang pada tonjolan segi empat yang menembus lubang di sisi papan, merupakan teknik rancang bangun perahu dengan teknik papan ikat dan kupingan pengikat (sewn plank and lushed plug technique).
Tonjolan segi empat atau tambuku digunakan untuk mengikat papan-papan dan mengikat papan dengan gading-gading dengan menggunakan tali ijuk (Arrenga pinnata). Tali ijuk dimasukan pada lubang di tambuku. Pada salah lubang di bagian tepi papan perahu yang di temukan di Sungai Kupang terlihat ujung pasak kayu yang patah masih terpaku di dalam lubang. Biasanya penggunaan pasak kayu untuk memperkuat ikatan tali ijuk.
Teknologi perahu tradisi Cina Selatan antara lain telah digunakannya paku untuk merangkai papan. Jenis perahu semacam ini ditemukan di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Selain arkeologi, penelitian etnografis tentang perahu-perahu tradisional menghasilkan data tentang berbagai tipe tradisi perahu. Di daerah Sumatera Selatan banyak dijumpai tipe-tipe perahu antara lain perahu bidar dan perahu kajang. Kedua tipe perahu tersebut merupakan perahu-perahu tradisional yang mungkin berasal dari masa Sriwijaya (abad VII-XIII Masehi).
Salah satu bentuk perahu tradiosional yang terdapat di Sumatera Selatan adalah perahu kajang. Jenis perahu ini umumnya berasal dari daerah Kayu Agung di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pada masa lalu perahu kajang banyak dijumpai di Sungai Musi Palembang, akan tetapi sekarang sudah tidak dapat dijumpai lagi. Berdasarkan hal tersebut dilakukan pendokumentasian perahu tersebut di wilayah Kayu Agung.

Perahu Kajang Kayuagung
Pengamatan terhadap perahu Kayu Agung dilakukan di sepanjang Sungai Komering, yaitu di kelurahan Kota Raya, Kedaton, Jua-Jua dan desa-desa sekitarnya. Selama pengamatan tidak dijumpai lagi perahu-perahu kajang. Menurut keterangan penduduk sejak tahun 1980-an jenis perahu itu sudah tidak digunakan lagi seiring dengan merosotnya pemasaran tembikar Kayu Agung ke daerah-daerah lain. Biasanya perahu kajang digunakan untuk mengangkut barang-barang tembikar Kayu Agung dan dipasarkan ke daerah-daerah lain. Pemasaran dengan perahu tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, berbulan-bulan bahkan tahun.
Setelah melakukan penelusuran berkali-kali di sepanjang Sungai Komering, akhirnya ditemukan sebuah perahu kajang di Kelurahan Kedaton. Satu-satunya perahu kajang tersebut telah dimodifikasi menjadi perahu ketek, yang telah menggunakan mesin.
Perahu kajang merupakan perahu yang menggunakan atap dari nipah yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian depan atap yang disorong (kajang tarik), bagian tengah adalah atap yang tetap (kajang tetap) dan atap bagian belakang (tunjang karang). Bahan yang digunakan untuk pembuatan perahu ini adalah kayu jenis kayu rengas, yang sudah tidak ditemukan lagi di wilayah Kayu Agung. Panjang perahu sekitar delapan meter dan lebar perahu dua meter. Buritan di bagian depan perahu terdapat tonjolan seperti kepala yang disebut selungku, merupakan ciri khas perahu kajang Kayu Agung.
Perahu kajang memiliki dayung dan kemudi yang terbuat dari kayu. Panjang dayung sekitar tiga meter, sedangkan panjang kemudi sekitar dua meter. Dayung dibuat dari kayu yang lebih ringan, sedangkan kemudi dari kayu berat yang bagian tepinya diberi lempengan logam. Kemudi ditempatkan di bagian belakang, sedangkan dayung digunakan di bagian depan.
Tata ruang perahu terdiri dari bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Bagian depan merupakan ruang untuk menyimpan barang-barang komoditi yang dijual, seperti barang tembikar dan untuk kemudi. Bagian tengah adalah ruang keluarga untuk tempat tidur. Bagian belakang adalah kamar mandi dan dapur.
Penutup
Pada saat ini sudah sukar dijumpai perahu kajang di wilayah Kayu Agung. Selama ini belum ada upaya untuk melestarikan perahu tersebut, padahal perahu tersebut merupakan ciri khas Kayu Agung dan jenis perahu tersebut banyak terdapat di perairan Asia Tenggara dengan berbagai variasi. Oleh karena itu pihak pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengusahakan pembuatan perahu kajang untuk melestarikan karya dan keterampilan nenek moyang dalam membuat perahu.

Sejarah Kota Kayuagung

Kayuagung sebuah kota yang terletak di lintas timur sumatera, Salah satu dari Kabupaten dari Provinsi Sumatera Selatan (Palembang), Kayuagung yang berjarak 65 KM dari pusat kota Palembang, Kayuagung merupakan Daerah Tingkat II di provinsi sumatera selatan. Kayuagung merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Kayuagung Terdiri dari 10 kelurahan (Morge Siwe)
  1. Mangujaya
  2. Cintaraja
  3. Jua-jua
  4. Sidakerja
  5. Sukadana
  6. Paku
  7. Kedaton
  8. Kotaraya
  9. Kayuagung Asli
  10. Perigi
Nama Kayuagung secara umum berasal dari sebuah sejarah, dimana pada zaman dahulunya, daerah kota kayuagung terdapat pohon-pohon yang berukuran besar, bahkan ada yang sampai berdiameter 4 meter , kemudian disimpulkanlah oleh para petua Pohon itu berarti Kayu sedangkan Besar Itu Agung. mungkin andapun secara tidak sengaja pernah melihat pohon berukuran besar di kota anda, kemungkinannya itu merupakan pohon kayuagung, tapi bukan berarti setiap pohon yang besar itu merupakan pohon kayuagung, ciri khas pohon Kayuagung itu berukuran besar memiliki urat pohon yang timbul dan memiliki akar yang besar dan menjular, selain itu juga terdapat akar yang menjular dari atas kebawah, jadi dari sebuah pohonlah nama dari kota kayuagung itu.
Kayuagung ibukota dari Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan Pemerintah Daerah Tingkat II di Sumatera Selatan yang luasnya sekitar 21.469,90 kilometer persegi yang secara geografis terletak antara 104 2'-106 o' derajat Bujur Timur dan 4o 30'-4o 15 derajat Lintang Selatan. jumlah penduduk dalam sensus 2008 mencapai kurang-lebih 55,285 ribu jiwa lebih, mayoritas penduduknya beragama Islam.



APRESIASI TENTANG KAYUAGUNG
Sekitar 5 tahun yang lalu Kayuagung hanyalah kota sederhana, Kayuagung Lebih identik sebagai kota Duta, banyak orang yang berfikir negatif tentang Kayuagung, menyedihkan memang, tapi anggapan orang telah terlanjur terbentuk bahwasanya Kayuagung kota duta, kotanya para penjahat, perampok, dsb, hanya saja untuk kembali membuka pikiran masyarakat umum tentang Kayuagung, saya akan memberikan persentase jumlah penduduk yang berprofesi sebagai Duta di Kayuagung, persentase yang ada hanya 8, 72 % orang pribumi yang berfrofesi sebagai duta.

Duta itu istilah dari penjahat yang melakukan tindakan kriminal (pencurian, perampokan, dll) yang umumnya beraksi di luar negeri ada juga yang di indonesia.

Tapi Bersyukurlah Kayuagung yang sekarang jauh berbeda, anggapan tentang kota penjahat atau duta mulai berganti, kesadaran masyarakat awam yang secara perlahan mampu membuka mata, memanfaatkan peluang yang ada.
tidak hanya semata-mata mengandalkan sertifikat dan ijazah sebagai peluang.

PERBEDAAN 5 TAHUN LALU
Kayuagung sudah menjadi kota yang sedikit lebih maju, Kayuagung yang memiliki kelengkapan yang bisa di katakan standard, pada tahun 2008 telah berdirinya UNISKI (Universitas Islam OKI), Lapangan Olahraga, Rumah Sakit Umum Tingkat Nasional, Sekolah Menengah Atas yang telah standard Nasional, Serta Objek Wisata Teluk Gelam, Peningkatan ekonomi masyarakat jauh lebih baik di banding beberapa tahun lalu, perkembangan Ini pun di manfaatkan oleh beberapa Pengusaha yang menganggap kayuagung berpotensi sebagai peluang usaha.

Pemerintah memperhatikan betul perkembangan di beberapa sektor sesuai program Pemerintah Daerah, mulai dari Sektor Pendidikan, Olahraga, Kesehatan, Pertanian dan Sektor Ekonomi , dalam beberapa tahun ini mengalami kemajuan yang pesat dan signifikan, hal itu juga tak lepas dari dukungan masyarakat kayuagung, sekaligus memacu masyarakat untuk melakukan revolusi besar, sebuah perubahan untuk kemajuan bersama, Agar terus dapat terus berkembang menjadi kota yang pantas di banggakan , sayangnnya sedikit terlambat di banding kabupaten-kabupaten lainnya.
Kayuagung mulai berbenah di sektor Pendidikan sekarang di kabupaten OKI khusus nya di kayuagung telah memiliki sekolah-sekolah yang standard nasional, SMP dan SMA yang mampu berprestasi mulai dari tingkat provinsi hingga di tingkat nasional, Pada tahun 2008 telah berdirinya Universitas Islam OKI (UNISKI), serta lembaga-lembaga belajar lainnya, sebut saja, Kursus dan Kuliah Komputer DCC Kayuagung, AL-Ikhlas, Gilland Ganesha, Taman Belajar English Course, Mitra Global, Serta Bimbingan Belajar.
Kayuagung
mulai berbenah di sektor Olahraga, sekarang di Kayuagung telah tersedia Lapangan Sepakbola Segitiga Emas lapangan yang memang belum memiliki kelayakan untuk event daerah, belum adanya tribun seperti layak stadion bola umumnya, Lapangan Futsal Outdoor Sederhana, Lapangan Badminton Indoor, Arena lingkar Road Race, serta Lapangan Badminton di Gedung Juang Kayuagung, tersedia juga olahraga Sky Air Di danau Wisata Teluk Gelam, Perahu Layang, dalam beberapa tahun ini selalu dia adakannya "BUPATI CUP" kompetisi ini untuk memacu dan melihat potensi atlet-atlet di Kayuagung, sekaligus menyalurkan bakat-bakat masyarakat Kayuagung.

Kayuagung
mulai berbenah di sektor Kesehatan, sekarang telah berdirinya RSUD dan Puskesmas, bertarap Nasional mulai dari Fasilitas Bangunan, Peralatan, hanya saja masih banyak keluhan masayarakat tentang Pelayanan, tapi sedikit lebih baik, walaupun semuanya belum sesuai dengan harapan masyarakat.
Kayuagung mulai berbenah di sektor Ekonomi, sekarang di Kayuagung jauh lebih baik soal ekonomi, bukan berarti masyarakatnya rata-rata kaya, atau tidak ada masyarakat miskin hanya saja peningkatan ekonomi secara perlahan mulai di rasakan penduduk Kayuagung secara tidak langsung.

Mata pencaharian penduduk Kayuagung umumnya Pegawai, Wirausaha, Petani disamping sebagai pengrajin pada industri kecil dan pertukangan. Kayuagung cukup terkenal dengan kerajinan tanah liat yang memproduksi alat-alat masak.

Kayuagung menjadi salah satu daerah penyuplai terbesar di sektor perkebunan dan pertanian seperti beras, kelapa sawit, karet, untuk mewujudkan "SUMATERA SELATAN SEBAGAI LUMBUNG PANGAN DAN ENERGI".
Semoga dengan blog ini kita mampu memperkenalkan kota Kayuagung, mudah-mudahan menambah wawasan tentang sebuah sejarah tentang Kota Kayuagung, semoga Kayuagung akan jauh lebih baik lagi dari tahun ke tahun.AMIEN
Jangan pernah malu mengatakan onyak jime owam (orang kita), karena seharusnya kita harus bangga menjadi bagian kota kayuagung sebagai rumah tinggal kita tempat kita berpijak.
Untuk Anda yang ingin menyatakan pendapat, saran dan kritik, pengumuman, serta yang berita seputar kota Kayuagung dan OKI, posting komentar anda, agar anda secara tidak langsung anda ikut berpatisipasi Membangun dan Memajukan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir, insyallah mendapat tanggapan dan perhatian dari pemerintahan kabupaten OKI khususnya Kayuagung.

Tradisi Lebaran di Kayuagung

MIDANG - morge siwe atau disebut karnaval budaya telah menjadi tradisi tahunan di Kecamatan Kota Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) bila Idul Fitri tiba. Kegiatan ini telah menjadi agenda nasional dalam pelestarian budaya bangsa,
Midang awalnya merupakan satu dari rangkaian adat perkawinan Mabang Handak (Burung Putih, red) masyarakat Kayuagung pada masa itu, yang merupakan perkawinan dalam adat yang tertinggi. Jika ada pasangan muda-mudi yang melangsungkan pernikahan, maka salah satunya adalah dengan digelarnya midang yang pesertanya berasal dari masyarakat sekitar.
Namun seiring berjalannya waktu kegiatan midang dalam rangkaian adat perkawinan ini sudah berangsur-angsur langka dilaksanakan oleh masyarakat. Kalau pun ada maka yang melaksanakan adalah keluarga yang berasal dari tingkat ekonomi yang mampu.
Guna melestarikan budaya tersebut Pemerintah OKI, mengagendakan secara nasional. Awalnya midang ini adalah sebagai sarana memperkenalkan kepada masyarakat bujang dan gadis di tempat tersebut dengan tujuan jika ada orang tua yang menyukainya maka dapat melamarkan untuk anaknya.
Seperti halnya pada hari raya Lebaran sebanyak 11 kelurahan dalam Kecamatan Kota Kayuagung mengikuti kegiatan ini diantaranya dari Kelurahan Sukadana, Kelurahan Paku, Kelurahan Mangunjaya, Kelurahan Cintaraja, Kelurahan Sidakerja, Kelurahan Jua-jua dan Kelurahan Tanjung Rancing. Kemudian Kelurahan Kayuagung Asli, Kelurahan Perigi, KelurahanKotaraya, dan Kelurahan Kedaton yang digelar selama hari ketiga Lebaran.
Peserta yang ikut dalam acara midang ini, tidak hanya warga yang tinggal di Kota Kayuagung saja, namun warga Kayuagung yang tinggal di ibukota maupun provinsi lain juga turut hadir diacara ini, seperti Kombes Iskandar yang bertugas di Mabes Polri turun meramaikan acara midang yang didampingi istrinya.
Ketika ditanya mengenai midang, Iskandar hanya tersenyum dan menjawab ini adalah suatu teradisi Kayuagung yang patut diacungi kedua jempol karena hingga sekarang tetap berjalan dengan baik.
Saya meskipun jauh-jauh tetap hadir diacara midang ini kalau memang waktunya senggang. Ini adalah tradisi jangan sampai dihilangkan dan dilupakan,” ujarnya.

Situasi Pemakaian Bahasa di Kota Kayuagung

Kecamatan Kota Kayuagung terdiri atas 11 kelurahan ; yaitu Kelurahan Kayuagung (asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Mangunjaya, Sidakerda, jua-jua, Cintaraja, dan Tanjung Rancing, Serta 14 desa ; yaitu Desa Bulu Cawang, Lubuk Dalam, Banding Anyar, Anyar, Muara Baru, Kijang Ulu,Celika, Tanjung Menang. Bagian tersebut penutur Bahasa Kayuagung berada di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Wilayah ini merupakan ibukota Kabupaten OKI. Penduduk utama penuturan Bahasa Kayuagung tergabung dalam suatu wilayah yang disebut morge siwe ( marga sembilan ); yaitu sembilan kelompok masyarakat setingkat desa/ kelurahan di era sekarang. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung ( asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sida kersa, dan jua-jua. Dengan demikian dari 11 kelurahan yang ada di kecamatan Kota Kayuagung, dua di antaranyalah yang bukan menjadi penduduk penuturan bahasa Kayagung, yaitu Kelurahan Kayuagung (asli) dan Tanjung Rancing. Selain di wilayah Kota Kayuagung Bahasa Kayuagung juga ada di wilayah lempuing dan Mesuji (masih di Kabupaten OKI). Hal ini bisa di maklumi karena berdasarkan sejarahnya wilaya Lempuing dan Mesuji merupakan jalur kedatangan orang-orang Kayuagung dari Lampung.
Di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terdapat beberapa daerah, di antaranya adalah bahasa Kayuagung, Komering, Pedamaran, Melayu Palembang, Jawa, dan beberapa bahasa atau dialek lainya. Bahasa Indonesia juga dipergunakan secara luas, selain bahasa seperti bahasa Inggris dan Arab Yang penggunananya sangat terbatas. Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI) beribukota di Kayuagung. Berdasarkan sejarahnya, wilayah ini didukung oleh apa yang oleh masyarakat setempat disebut dengan morge siwe ( atau Sembilan Marga). Marga di seantero Sumatera Selatan dikenal dengan suatu kawasan yang dahulunya setara di atas desa/ kelurahan. Saat ini wilayah morge siwe berada di bawah pemerintah administrasi Kecamatan Kota Kayuagung. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung (asli), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sidakersa, dan jua-jua.
A. Bahasa-bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia
Di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung sebagai dari Kabupaten Ogan Komering ilir (OKI) yang menjadi pusat perekonomian, pusat pendidikan, dan pemerintahan di kabupaten ini, pada dasarnya berkembang bahasa Kayuagung yang terdeteksi oleh Summer Institute of Linguistics (SIL) berputaran 45,000 di tahun 1989, dan masuk dalam klasifikasi bahasa-bahasa Austronesia, Malayo- Polynesian, Lampungic, Abung ( http://www.ethnologne.com/show_languege.asp?code=vky ). Dalam perkembangannya, bahasa Kayuagug menghadapi kondisi yang stagnan atau bahkan akan mengalami kemunduran atau penurunan jumlah penutur seiring dengan terdesaknya bahasa Kayuagung ini dalam percaturan kebebasan di wilayah sendiri. Bahasa Kayuagung sangat “ terancam” dengan keberadaan bahasa derah lain, yaitu bahasa Melayu (Palembang), selain bahasa indonesia mungkin nanti akhirnya bahasa asing (bahasa Inggris) ( Sudarmanto, 2009a; 2009b).
Bahasa Kayuagung memang masih dipakai di wilayah atau kelurahan di Kecamatan Kota Kayuagung, atau di beberapa desa saja di wilaya Kecamatan Lempuing dan Mesuji. Akan tetapi pengunananya mulai sangat terbatas. Hal ini tampak pada pengunaan bahsa Kayuagung yang hanya dipakai oleh komunitas asli Kayuagung saja. Apabila di dalam pertemuan, forum, atau pembicaran-pembicaran tertentu yang mulai menghadirkan orang yang bukan berasal dari Kayuagung – atau di perkirakan tidak bisa berbicara bahasa Kayuagung – maka hampir bisa dipastikan akan nada alih kode (code swtching) ke bahasa derah lainnya yang lebih dominan, yaitu bahasa Palembang, atau malah ke bahasa Indonesia. Kesopanan dan menghormati lawan bicara alasan alih kode ini oleh masyarakat penutur bahasa Kayuagung. Bahasa Kayuagung masih dipergunakan di dalam rapat atau pertemuan di lingkungan Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), desa/kelurahan, atau Morge, meskipun juga tidak menutup kemungkinan bahasa-bahasa lain yang muncul dipakai pertemuan tersebut, misalnya bahasa palembang atau bahasa Indonesia. Akan tetapi untuk rapat resmi atau formal, terutama di lingkungan pemerintah kecamatan dan kabupaten, bahsa Indonesia telah menjadi bahsa resmi yang layak untuk dipakai.
Bahasa Kayuagung masih lekat dipakai didalam acara lamaran seorang bujang kepada gadis. Hampir seluruh rangkaaian ‘ lamaran’, atau manjau (yang juga bermakna bertandang atau bertamu) ini masih menggunakan bahsa Kayuagung. Akan tetapi, pada saat resepsi pernikahannya, karena memperhatikan tamunya yang berenaka ragam latar belakang-justru bahasa yang dipergunakan adalah bahsa Indonesia. Perwara juga mengunakan bahsa indonesia untuk memandu rangkaian acara resepi pemerintahan. Acara ijab kabul pernikahan pun sudah mengunakan bahsa indonesia ( atau bahasa Arab). Mempelai laki-laki akan mendapatkan gelar baru atas pernikahan yang dijalaninya. Menurut masyarakat Kayuagung sebagai masih mengikuti jalur patrlineal, di mana berkaitan dengan pemberian gelar ini hanya pihak laki-laki saja yang mendapatkan gelar sedangkan mempelai wanitanya tidak mendapatkan gelar. Pemberian gelar ini disebut masyarakat kayuagung dengan jejuluk. contah dari peberian jejuluk ini adalah nama aslinya saat lahir adalah Nawawi,Sedangkan nama jejuluk nya adalah Agung jaya/Agun Jaye/, orang Kayuagung memiliki kekhasan vokal /E / dalam bahasa nya. Contoh gelar yang lain adalah Cahaya Mukmin. Pemberian jejuluk ini makna yang menunjukan bahwa yang bersangkutan sudah menikah. Di kalangan keluarga besarnya, atau tetamu yang hadir dalam resepsi pernikahannya, mempelai laki-laki ini selanjutnya akan dipangkil dengan nama jejuluk nya, bukan lagi nama lahirnya.
Meskipun bahasa Kayuagung seharusnya menjadi tuan rumah di negrinya sendiri, tetapi beberapa bahasa derah lainnya juga masih beredar di sana.
Media radio sedikit memiliki andil dalam pelestarian, atau setidaknya dalam pengunaan, bahasa kayuagung. Terdapat satu radio swasta yang ada di wilayah Kayuagung, yaitu Radio 90,4 Kayuagung FM. Ini adalah satu- satu radio swasta yang ada di sana, selain stasiun radio memiliki pemerintahan, yaitu RRI Palembang dan Radio swasta di Palembang yang terkadang masih bisa terpantau di Kayuagung. Dengan sifatnya yang menghibur, Kayuagung FM mencoba mengakomodasi pendegar-pendegarnya pada radius yang terjangkau siaranan oleh radio ini. Jangkauan siaran radio ini mencakup pendegaran yang berbeda-beda. Kondisi ini mengharuskan pengelola radio Kayuagung untuk mengakomodasi kebutuhan para pendegarnya, termasuk dalam hal bahasa. Bahasa atau dialek yang di coba untuk bisa diakomadasi adalah bahasa atau dialek Kayuagung, Pedamaran, Sirah Pulaupadang, Meranjat dan Pegangan, Jawa, dan Palembang. Misalnya, ‘apa itu’ dalam bahasa Indonesia, akan menjadi onyi aje// dalam bahsa Kayuagung, apo iko/apo iko/ dalam bahsa Pedamaran, ape itu/ape itu/dalam dialek Sirah Pulau Padang, ape itu/ape itu/dalam bahsa Meranjat atau Peagagan, apo iku/apo iku/dalam bahsa Jawa, dan apo itu/ apo/apo itu/dalam bahasa Palembang atau, contoh yang lain adalah kemane ngan/ kemane nan/ dari dialek Sirah Pulau Padang dan tekude niku/tekude niku/dari bahasa Kayuagung yang artinya dalam bahsa indonesia adalah’ ke mana kamu’
Seperti yang di sampaikan sebelumnya, bahasa Kayuagung menjadi eksklusif di wilayah morge siwe saja. Tantangan atas keberadaan bahasa Kayuagung menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemilik bahasa penunturnya, pengaruh utama bahasa Kayuagung di wilayahnya sendiri adalah Palembang. Ketika keluar dari komunitasnya yang berbahasa Kayuagung, masyarakat Kayuagung akan langsung bersinggungan dengan bahsa Palembang, apabila lawan bicaranya teridentifikasi dari dari wilayah Sumatera Selatan, atau akan beralih langsung ke bahasa Indonesia apabila ada keraguan atas identitas kebahasan lawan bicanya. Bahasa Palembang begitu dominan dan menjadi lingua france dalam pergaulan dan komunikasi di sebagaian besar masyarakat Kayuagung (sudarmanto 2009a;2009b). Selain bahasa Indonesia yang dipergunakan secara resmi dan formal dalam interaksi pemerintahan, bahasa Palembang dipergunakan masyarakat dalam konteks yang tidak resmi dan formal. Di pasar, tempat-tempat keramaain, sekolah dan sebagainya, bahasa Palembang menjadi jembatan komunikasi yang paling banyak di pergunakan. Bahkan dalam kaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, bahasa Palembang di wilayah Kayuagung tetap menjadi yang dianggap paling memadai. Dalam hal pengiriman SMS (short messages service), misalnya, aku nak beenjukan salam untuk (aku mau memberikan salam untuk....)
B. BAHASA Asing
Bahasa asing, terutama bahsa inggris, berkembang pesat dalam arus kebahsaan di wilayah Kayuagung. Hal ini di sinyalir karena adanya persepsi bahwa sesuatu yang berbauh asing terasa lebih bagus, lebih gengsi, lebih berkualitas, dan sebagainya sinyalemen seperti ini bisa jadi mempengaruhi sikap berbahasa masyrakat disana. Mulai pemunculan tulisan-tulisan bernuasa bahasa Inggris untuk memperkenalkan atau mempromosikan komoditasnya, misalnya Games Station, Gold Net, London Beauty Center, Paint Protection, dan sebagainya. Memang, sebagai sudah benar penulisnya. Akan tetapi, masih banyak juga di temukan kondisi – kondisi yang masih kurang benar.
Kesalahan berbahasa yang banyak terjadi biasanya tersedia terjadi dalam ejaan penulisan. Karena adanya perbedaan tata tulis dengan tata pengucapan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menyebabkan penulis ejaan menjadi salah.misalnya, bacaan /’tuble *,tubeles*,atau bahkan cubles*. Contoh –contoh lainnya, diantara adalah spere-part/sper part/ yang kadang ditulis dengan spar part *, juga dalam bahasa Inggris yang seharusnya di tulis accessories menjadi aksesoris *, aksesoris ( yang akan menjadi benar apabila yang di maksudkan dalam bahasa indonesia). Contoh nya adalah vocher/vawer/yang memiliki bentuk kesalahan vhocer *. Ditemukan juga bentuk cas accu yang diperkiraan mengacu pada ‘ menyetrum aki ( atau alat untuk menyimpan tenang listrik )’ yang mengadaptasi bahsa inggris charge – battery ( atau battery recharging ) bentuk buku shock/syok/ yang bermakna ‘kejut’ yang bisa jadi ditulis dengan schpock*, atau sox*, ball- joint / bol join / menjadi boljoint *, bolljoin *,bolljoin *, overharul yang bermakna ‘ pemeriksaan’ yang tertulis dengan overhoul *, overholl *,dan sebagainya.mungkinnya.mungkin masih ada lagi contoh-contoh lain untuk jenis kasus yang sama.
Kadang di temukan juga kasus juga frasa gabungan antara bahasa inggris yang juga dipandang kurang pas.misalnya, Ogan technk*,strtes*dan cas ,oyong celluler *,counter Ninik Cellules *, pulsa Electrik *, tampal tubless*, dan sebagainya.dalam satu tempat objek pengamatan ditemukan adanya dua kondisi yang bertolak belakang, satu kondisi bertulis “ raja “ specialist accu dan satunya lagi toko spesialis aki “raja” . dengan mendasarkan pada tata bahasa bahasa Inggris, terdapat permasalahan pada kasus ke dua dengan mengikuti aturan tata bahasa indonesia menjadi tata tulis yang benar.
Pembicara lain tentang Bahasa Asing, dalam hal ini Bahasa Inggris, adalah dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah dasar bahasa asing ini juga sudah mempengaruhi nama penduduk di kayuagung ; seperti jakson,richard , jimmy dan sebagai nya sebagai interpretasi dari kondisi ke bahasaan Bahasa Asing, terutama Bahasa Inggris, kaitan dengan nama-nama penduduk di wilayah Kayuagung adalah tergesernya identitas melayu (dengan identitas ke Arab-an atau ke Islam- annya ), karena seperti kita ketahui bahwa identitas melayu adalah identik dengan Arab atau Islam.

Penutup
Situasi kebahasaan di Kayuagung bisa jadi juga terjadi di beberapa daerah lain dengan permasalahan yang kurang lebihnya sama . sebagai penutup tulisan ini, bisa di sampaikan beberapa poin penting berkaitan dengan sistem komunikasi verbal atau situasi kebahasaan di wilayah Kayuagung, yaitu bahwa (1) bahasa Kayuagung seharusnya mengembalikan kondisi untuk menempatkankan bahasa mereka di rumah mereka sendiri. Maksudnya adalah bahsa Kayuagung, di wilayah-wilayah persebrangan, semakin di pupuk kembangan dan di munculkan di luar lingkungan penuturannya. Tidak ada salah memperkenalkan lebih intensif lagi pengetahuan dan pemahaman tentang bahsa Kayuagung di luar lingkungan penuturannya, (2) pengaruh bahasa daerah lain, terutama bahsa Palembang, harusnya dijadikan sarana untuk memperkaya bahsa Kayuagung, sekaligus melestarikannya, dan jangan justru mengikisnya (3) bahasa asing, dalam hal ini bahsa Inggris, mestinya bukan hanya dipandang sebagai gengsi belaka. Penangan perihal bahsa asing ini harus mendapatkan porsi yang tepat.untuk mata pelajaran muatan lokal menurut hemat penulisan bahsa derah Kayuagung akan lebih berfaedah untuk di terapan daripada bahsa adanya permasalahn dalam proses pengajar bahasa di usia dasar, juga untuk lebih dini memunculkan indentitas kebahsa daerah Kayuagung kepada siswa-siswa sekolah dasar.
Selain itu, sebagai catatan akhir diharapakan dengan indentifikas dan investarisasi sejumlah permasalahan kebahasan di wilayah Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ini nantinya, di harapkan menjadikan masukan yang sangat berguna di dalam mengidentifikasi dan menangani berbagai permasalahan kebahasan ( dalam konteks kelokalan sumatra selatan dan kenasionalan indonesia ) kepada pengambilan ke bijakan terkait.

Disampaikan Oleh : Budi Agung Sudarmanto
Disajikan dalam:
SEMINAR INTERNASIONAL HARI BAHASA IBU
DAN PRAKONGRES NASIONAL DUTA BAHASA
DI GEDUNG MERDEKA BANDUNG
19 – 20 Februari 2010

Legenda Danau Teluk Gelam

Danau teluk gelam adalah objek wisata andalan kabupaten OKI yang memiliki begitu banyak mitos di balik keindahannya.
Dahulu kala, tersebutlah sebuah kerajaan bernama Bayang-bayang. Kerajaan ini di perintah oleh seorang raja yang arif bergelar Mangkubumi. Raja memiliki seorang putra bernama Tapa Lanang.
Saat Tapa Lanang berumur 7 tahun ia ditinggal pergi ibunya, kesedihan dan kedukaan melanda negeri bayang-bayang. Namun kesedihan itu tak berlangsung lama karena sang Raja mempersungting seorang istri yang juga membawa anak seumur Tapa lanang.
Hari berganti hari tahun berganti tahun, Tapa lanang tumbuh dewasa dan menginjak umur 21 tahun.
Kedua putra Raja Mangkubumi tumbuh dengan perangai dan perilaku yang berbada.
Pada suatu hari Mangkubumi bersikap kasar terhadap Tapa lanang akibat perbuatan yang tidak di sengaja olehnya. Sehingga Tapa lanang di usirnya dari kerajaan bayang-bayang.
Dalam pengembaraannya yang tak tentu arah sampailah Tapa lanang di sebuah talang, disanalah ia beristirahat dan melihat sebuah gubuk dengan seorang gadis cantik yang berambut sangat panjang. Gadis itu bernama Putri Gelam, seorang putri kayangan terkena tenung sehingga diusir dari kerajaan.
Akhirnya mereka menikah dan hidup berbahagia dengan memiliki dua anak, putra dan putri.
Suatu ketika pertempuran yang sangat hebat. Dalam pertempuran itu putra Tapa tanang gugur. Melihat itu mendalamlah kedukan Tapa Lanang, ia putus asa dan mencoba menebus kesalahannya dengan membenamkan diri dalam Lumpur disebuah lebak.
Melihat perkara itu sang istri menangis tiada henti hingga membanjiri lebak tersebut. Seketika lebak itu menjadi danau besar, sedangkan Tapa Lanang menjadi ikan besar. Karena tidak ingin berpisah dari suaminya putri gelam berubah menjadi Burung Gelam dan anaknya menjelma menjadi Pohon Gelam.
Begitula asal mula Danau Teluk Gelam yang hingga kini tetap dinikmati keindahan dan panorama alamnya sebagai objek wisata andalan Kabupaten OKI.

Legenda Dari Kayuagung

Sebagai Ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, kayuagung merupakan daerah yang sangat penting peranannya di kabupaten ini. Selain penduduk asli, ditempat ini bermukiman penduduk yang berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dilingkungan Sumatra Selatan tapi juga dari luar propinsi. Masyarakat kayuagung Asli, menyimpan kisah yang sangat unik, sebagaimana yang dituturkan oleh berbagai sumber tradisional dan modern.

Perkisahan dibawah ini, yang didasarkan pada beberapa sumber termasuk karya Dodoh Bihantarti Toponim Masyarakat Kayuagung, diterbitkan oleh Kandep Dikbud Ogan Komering Ilir, Noor Indones dan A Rahman pola penguasaan, pemilikan dan penggunaan Tanah secara Tradisional Daerah Sumatra Selatan Dekdikbud SumSel. Perkisahan ini melukiskan proses pembentukan identitas masyarakat kayuagung.


Asal Usul
Penduduk dalam Marga kayuagung berasal dari dua keturunan atau poyang. Keduanya,
yaitu keturunan yang berasal dari Abung Bungamayang dan dari Skala Berak yaitu Komering-Batak. Abung Bungamayang mula-mula menempati daerah di sekitar Sungai Hitam Lempuing, dengan leluhurnya bernama Mekodum Mutaralam. Sedangkan keturunan yang berasal dari Skala Berak mula-mula bertempat tinggal di Batu Hampar Kijang poyang yang bernama Raja Jungut.

Menurut cerita tutur yang beredar di kalangan masyarakt setempat, Puyang Mekodum Mutaralam. Ini berasal dari Abung Bungamayang yaitu suku bangsa yang terdapat di kresidenan Lampung Utara yang bernama Siwo Mego di daerah Wai Kunang.

Pada awalnya, orang Abung tinggal di Wai Kunang dengan maksud untuk mencari tempat tinggal di Komering, akan tetapi lantaran mereka terdesak dalam suatu peperangan, maka mengundurkan diri memasuki sungai Macak, keluar ke sungai Lempuing. Di daerah inilah kemudian orang Abung menetap.

Tempat yang mula-mula diduduki orang Abung ialah Kotapandan di daerah Sungai Hitam yaitu anak sungai Lempuing. Komunitas itu dipimpin langsung oleh Mekodum Mutaralam. Setelah meninggal dunia, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Raden Sederajat. Ketika Raden Sederajat wafat ia digantikan oleh puteranya bernama Indera Bumi.

Indera Bumi mempunyai dua putera laki-laki yaitu Setiaraja Diyah dan Setia Tanding. Tokoh yang namanya disebutkan pertama, yaitu Setiaraja Diyah yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pimpinan orang Abung Bungamayang katika beliau wafat. Dalam memimpin, ia dibantu oleh jurutulis Setiabanding Sugih. Kedudukannya berada di kotapandan.
Pada masa kepemimpinan Setiaraja memimpin, maka ditetapkanlah adat istiadat kemasyarakatan oleh patih Gajahmada.Adat istiadat itu berisi peraturan tentang adat istiadat pedusunan, adat bujang gadis,dan masalah etika lainnya. Pada masa ini di ajarkan pula penulisan dengan menggunakan aksara Surat Rencong.
Untuk mengatasi jumlah penduduk yang telah berkembang, pada masa kekuasaan Setiaraja Diyah Ini di lakukan pengembangan wilayah dengan membuka perkampungan sekaligus penempatan penduduk sekitar sungai lempuing, dengan nama Bulu Nawa. Ditempat baru ini diselenggarakan pula pemerintahan baru, yang masih berinduk pada kekuasaan lama yang berkedudukan dikota Pandan.

Lambat laun, Bulu Nawa manjadi suatu tempat yang ramai dan maju. Kondisi ini mengundang kedatangan orang-orang yang berasal dari tempat-tempat yang jauh, termasuk orang-orang asing untuk mencari penghidupan. Bulu Nawa mulai di kenal sebagai tempat perdagangan. Karena telah menjadi sangat maju, sampai-sampai Setiaraja Diyah menggabungkan diri dengan negeri Bulu Nawa.

Setiaraja Diyah menikahkan Putri nya si Rambut Putih dengan Ratu Aji. Tokoh yang di sebutkan terahir ini adalah memiliki kehebatan yang sangat tinggi sehingga di sebut sebagai dewa suku Milung yang pertama kali turun ke dunia. Menantu Setiaraja Diyah yang hebat ini menerima gelar Depati Jorang Angkatan dan ia menggantikan Setiaraja Diyah.

Depati jorang Angkatan mempunyai anak bernama Depati punya Bumi. Anak inilah yang menggantikannya setelah ia mangkat. Depati punya Bumi selanjutnya di gantikan oleh Depati Lanang, yang setelah mangkat digantikan anaknya Depati Bungkuk.

Akan halnya saudara Setiaraja Diyah, yaitu Setia Tanding telah berpindah tempat
Ke pematang Bidara. Dalam kedudukannya sebagai pimpinan di pematang Bidara, ia selanjutnya digantikan oleh putera nya yang dikenal dengan sebutan Setia Kujang. Setia Kujang merasa kurang cocok di Pematang Bidara sehingga selanjutnya berpindah lebih ke hilir sungai, di suatu tempat sebelah hilir Muara Burnai sekarang. Setelah mangkat, Setia Kujang digantikan oleh puteranya Setia Landai. Setia Landai berkedudukan di kota Besi, sementara depati Bungkuk tetap berkedudukan di Bulu Nawa.

Malang tidak dapat di hindarkan, pada masa kekuasaan kedua tokoh ini kota Besi dan Bulu Nawa secara bersamaan di serang oleh banjir sehingga keduanya, bersamaan seluruh rakyat pindah ketempat lain yang lebih aman. Setia Landai mendapatkan tempat di Pematang Sudahutang yaitu di berada di hulu Pedamaran sekarang, dan di beri nama Perigi. Sementara Setia Bungkuk mendapatkan tempatnya di Tanjung Beringin di tepian Batanghari Mesuji.

Pada waktu mengungsi lantaran banjir, Depati Bungkuk membawa seperangkat gamelan yang diberi nama Tale Seratus. Kini gamelan itu telah tidak ada lagi karena telah dijual oleh salah seorang diantara keturunannya, yaitu Depati Kemala Anom.

Depati Bungkuk mempunyai dua orang anak yaitu Purbajaya, dan yang satu lagi Depati Punya Bumi Muda yang kemudian menggantikannya memimpin dalam komunitas di Tanjung Beringin itu. Pada masa kekuasaan Depati Punya Bumi, masyarakat Abung yang berada di Tanjung Beringin berpindah tempat kehilir Pematang Sudahutang yaitu Perigi.

Akan tetapi karena Perigi telah dipimpin oleh Setia landai maka Depati Punya Bumi Muda berada di bawah kekuasaan Setia Landai. Setia Landai sendiri, setelah wafat digantikan oleh puteranya Depati Jana dan memindahkan masyarakatnya dari pematang Sudahutang ke suatu dusun yang baru diberi nama Perigi pula. Pemindahan itu merupakan hasil mufakat antara Depati Jana dengan tokoh yang berasal dari skala Berak yang berkedudukan di Batuampar, yaitu Tuan Pegaduh.

Karena terjadi pernikahan antara Surapati, anak Depati Jana dengan puteri Tuan Pegaduh yang bernama Dayang Sekara, maka Tuan Pegaduh memindahkan masyarakat dusunnya dari Batuampar ke suatu tempat masih ditepi sungai Komering. Tempat ini di kembangkan menjadi suatu dusun yang ramai. Lantaran di dusun itu di beri nama Kayuagung.

Setelah berdiri dusun perigi dan kayuagung, maka masyarakat di dusun Sudahutang banyak yang meninggalkan tempat kediamannya semula. Ada yang pindah dan menetap di hulu dusun Perigi dan diberi nama Kotaraya. Kotaraya di pimpin oleh Departi Punya Bumi Muda. Sebagian lagi, penduduk Sudahutang pindah ke suatu tempat di seberang kayuagung dan di beri Sukadana. Sukadana di pimpin oleh saudara Depati Punya Bumi Muda yang bergelar Purbajaya.

Depati Punya Bumi Muda berganti gelar menjadi Depati Kemalaratu Anom. Tokoh yang akan memangku jabatan kepala dusun, hendak lah di pilih oleh orang-orang Abung Bungamayang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Diyah dan Setia Tanding.

Selanjutnya, dusun Sukadana kemudian dimekarkan kepada dusun Jua-Jua dan dipimpin oleh Tuan Jimat. Begitulah, tempat ini terus berkembang mencapai sembilan sehinga disebut dengan Morge Siwe atau Sembilan Marga. Suhunan di Palembang merasa memerlukan seorang untuk membantunya mengatur kesembilan dusun itu. Untuk itu dipilihlah salah seorang di antara pimpinan kesembilan dusun itu. Tokoh yang dipilih adalah Depatiraja Ikutan Muda.

Dari Sukadana. Dalam kedudukan tersebut, Depatiraja Ikutan Muda diberi seperangkat atribut kebesaran oleh Suhunan palembang berupa satu payung perada atau emas, dua keris, tiga bilah pedang, dua pucuk tombak bertopang perak, satu lampit ulung, satu kajang seremang dari kain hitam bermotif bunga prada, dan sebuah gong.

Gong pemberian suhunan sebagai atribut kebesaran ini memiliki keunikan tersendiri yang legendaris. Diceritakan bahwa apabila seorang diantara keturunan Raja Ikutan Muda meninggal dunia maka gong itu bersuara dengan sendirinya.
Depati Raja Ikutan Muda diganti oleh putera saudaranya Depati Mahmud dengan gelar Ingganta yaitu anak Depati Mulia Jaya. Pada masa ini daerah tersebut takluk pada pemerintahan kolonial Belanda. Sejak masa itu pula terjadi susunan pemerintahan.
Kisah di Balik Nama
Sampai saat pemerintahan marga dibubarkan, dilingkungan marga Kayuagung telah berkembang manjadi 19 dusun, yaitu Sukadana, Paku, Mangun Jaya, Sida Kersa, Jua-Jua, Kayuagung, Perigi, Kotaraya, Kedaton, Celikah, Kijang Ulu, Muara Burnai, Tanjungsari, Lubuk Seberuk, Rantau Durian, Sungai Belida, Secupak, Tebing Suluh, dan Cahya Bumi. (Dewasa ini, jumlah itu telah bertambah).

Setiap nama dusun tersebut memiliki cerita tersendiri sebagai asal-usulnya, sebagaimana dipaparkan berikut.
Sukadana, dinamakan Sukadana karena lebak dari dusun itu mengelilingi sebuah danau. Pada mulanya dusun ini bernama Suka Danau, tapi lama kelamaan berubah penuturannya menjadi Sukadana. Sementara itu dusun Paku, dinamakan demikian memiliki latar belakang peristiwa berhubungan dengan tumbuhan paku atau sejenis pakis. Menurut cerita, pada waktu merintis dusun ini, Tuan Mekedum alias Bucit terjatuh kedalam pusaran air di Lubukbaru. Tempat ini berada di sebelah selatan dusun Jua-Jua. Pada waktu terjatuh itu ia dapat berpegang pada serumpun tumbuhan paku dan lantaran itu ia selamat dari pusaran air. Untuk memperingati peristiwa ini dusun ini dinamakan dengan dusun Paku. Menurut cerita, Bucit menjadikan paku sebagai suatu tumbuhan patangan untuk dimakan.
Mangun Jaya, berasal dari nama seseorang pimpinan yang merintis di buatnya dusun ini. Namanya adalah si Mangun, sedangkan jaya berarti sukses atau kejayaan. Sida Kersa, diambil dari penggunaan tempat ini pada zaman dahulu sebagai tempat orang penghukuman. Dalam bahasa kayuagung, orang hukuman disebut Dersa. Kata ini selanjutnya di pandang sebagai kata dasar yang setelah melalui penuturan dari masa ke masa menjadi Sida Kersa. Jua-Jua di ambil dari nama ikan Juwa-juwa yaitu semacam ikan ikan seluang. Karena mengikuti penuturan lama kelamaan kata juwa-juwa berubah menjadi Jua-Jua.
Kayuagung, disebut demikian sebagaimana telah disinggung terdahulu ialah karena ditengah-tengah dusun ini terdapat sebatang kayu yang sangat besar. Sekarang kayu itu sudah tidak ada lagi. Perigi, dinamakan Perigi karena pada waktu mendirikannya didusun ini ada sebuah kolam atau Perigi. Lagi pula nama ini merupakan pindahan dari nama dusun di Pematang Sidahutang. Selanjutnya Kotaraya, dusun ini merupakan pindahan dari dusun yang pada masa sebelum bencana banjir besar, sangat ramai. Sedangkan kedaton disebut demikian karena didirikan di atas daratan yang dahulu bernama Talang kedaton. Sedangkan Celikah dan dusun Muara Burnai memperoleh nama demikian lokasi dusun ini terletak pada muara sungai Burnai anak sungai Lempuing. Demikian pula halnya dengan Tanjung sari yang memperoleh namanya lantaran berada pada Tanjungan sungai. Dusun tanjungsari sangat mudah terlihat dari arah hulu maupun hilir sungai sehingga tempat ini menjadi sangat strategis untuk melakukan berbagai kegiatan sosial-budaya.
Lubuk Seberuk memperoleh nama demikian karena di tempat itu terdapat suatu lubuk yang banyak berisi ikan seberuk, sedangkan Rantau Durian dahulu merupakan suatu tempat berkebun durian. Sungai Belida mengambil nama sungai yang melintas di dusun itu, sedangkan dusun Secupak dinamakan Secupak karena terletak ditepian sebuah tempat yang bernama Tembaku Secupak.
Nama Cahaya Bumi berasal dari rasa optimisme masyarakat pada awal tempat itu dibangun menjadi suatu perkampungan. Penduduk ditempat ini berasal dari dusun Belitang Komering Ilir Ulu. Mereka datang kesini maksud dengan mencari penghidupan yang lebih baik, dan merasakan bahwa di dusun ini mereka memang memperoleh perbaikan hidup yang lebih sejahtera. Oleh karenanya mereka menamakan tempat yang baru ini dengan Cahya Bumi yaitu daerah yang memberikan sinar atau harapan.
Di antara sembilan belas dusun yang disebutkan tadi, hanya dusun kayuagung yang di huni oleh keturunan dari Skala Berak, sedangkan dusun lain oleh keturunan Abung Bungamayang.
Selanjunya kayuagung pernah memiliki peranan yang sangat penting sebagai “ibu kota)” onder-efdeeling Komering Ilir, disamping Tanjung raja sebagai ibu kota onder-afdeeing Ogan ilir. Dewasa ini, kayuagung merupakan ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Midang Kayuagung

Diiringi musik tanjidor, ratusan pasang pengantin remaja melakukan tradisi ritual pasca-Lebaran di Kayuagung, Ibu Kota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dengan berjalan sejauh 5 km. Tradisi itu disebut midang, morge siwe.
Selain menyusuri jalan di sepanjang Sungai Komering yang membelah kota yang terletak sekitar 65 km dari Palembang, Ibu Kota Sumatera Selatan, barisan pengantin remaja itu juga menyeberangi Sungai Komering dengan perahu ketek. Ini memberikan gambaran betapa mulianya ritual perkawinan yang merupakan pertanda berakhirnya masa bujang dan gadis.
Sudah turun temurun tradisi ini digelar masyarakat Kayuagung yang terdiri dari sembilan marga. Hanya saja, kini ritual itu dilakukan untuk melestarikan tradisi. Karena perkawinan yang digelar masyarakat tak mungkin lagi bisa menyelenggarakan upacara sebesar itu.
Dalam tradisi midang ini, spontanitas warga kota yang berpenduduk sekitar 150.000 keluarga memadati sepanjang jalan yang dilalui. Karena banyaknya pasangan pengantin remaja yang ikut meramaikan ritual midang, kini digelar selama dua hari, yakni pada Kamis (26/10) dan Jumat (27/10).
Dalam ritual itu digambarkan bagaimana perkawinan itu dimulai dari perkenalan antara bujang dan gadis, lalu ada acara melamar atau bahkan kawin lari dan diakhiri dengan perkawinan yang diwarnai arak-arakan sepasang pengantin keliling kota untuk memberi tahu warga bahwa sepasang remaja itu kini sudah berubah status.
Pada ritual itu, setiap marga diwakili satu pasang pengantin inti yang berpakaian lengkap pengantin khas Kayuagung diiringi puluhan bahkan ratusan pengantin remaja sebagai pengiring.
Banyaknya jumlah pengiring ini, menurut Ketua Pemuka Adat Kayuagung Rahman Ahmad, bergantung besar kecilnya keluarga. Semakin besar keluarga, semakin banyak pengantin pengiring. Arak-arakan ini juga diiringi musik tanjidor yang membawakan lagu daerah.
Pengantin inti lelaki maupun pengantin pengiring mengenakan handuk sebagai selendang. Sebagai pertanda bahwa usai arak-arakan mereka akan mandi di Sungai Komering. Saat mandi itu tidak mengenakan apa-apa, kecuali handuk yang dilepas begitu tubuh masuk ke air.
Mereka meski melewati pendopoan, karena waktu zaman penjajahan, pemerintah Belanda mengharuskan para pengantin melewati pendopoan yang kini ditempati bupati. "Itu sebagai bagian dari pengontrolan pemerintah Hindia Belanda," ujar Rahman Ahmad.
Tanpa “Bong” dan “Juli”
Kalau zaman dahulu, dalam arak-arakan juga dibawa bong (tempat mandi dari kayu yang mengapung) yang biasanya ditempatkan di sungai. "Itu pertanda ada keluarga baru, ada bong baru. Tetapi karena sekarang sulit mendapatkan kayu besar yang mengapung, bong itu ditiadakan," paparnya.
Selain itu, arak-arakan juga diramaikan juli (gerobak yang dihiasi seperti perahu atau kapal). Pengantin inti ini pun dinaikkan di atas juli saat melewati pendopoan.
Kini, midang tanpa bong dan juli. Arak-arakan cukup berjalan kaki.
Menurut Camat Kayuagung Nehru, pesan yang ingin disampaikan bahwa tradisi arak-arakan ini tetap harus dilestarikan. "Apalagi, kalau menunggu ada perkawinan mabang handak (bawang putih) yang mampu menggelar midang, rasanya cukup sulit karena membutuhkan dana sangat besar. Karenanya, sejak puluhan tahun lalu, tradisi yang dikenal sejak kesultanan Palembang tahun 1800 Masehi lalu, digelar usai Lebaran," ujarnya di sela-sela midang.
Masyarakat Kayuagung yang menetap di kota itu ataupun perantau yang mudik saat Lebaran kini memang dapat menikmati midang tanpa perlu menggelar perkawinan. Dengan biaya swadaya masyarakat, usai Lebaran Kota Kayuagung akan selalu ramai. Mereka tumpek di sepanjang jalan yang dilewati peserta midang.
Selain midang masih ada acara yang lebih unik lagi, minsalnya BIDAR (lomba dayung) yang dilaksanakan setahun sekali di kayuagung.
Kerajinan Tangan
Kayuagung terkenal dengan kerajinan tangan perabot rumah tangga nya, minsalnya pembuatan gerabah untuk peralatan masak yang terbuat dari tanah liat, dan juga dari seni ukiran juga sangat terkenal masyarakat nya sebagian besar juga berprofesi sebagai ahli ukir, biasanya yang di buat adalah lemari ukir atau biasa di sebut dengan nama lemari REK.Kesemuaan ari kerajinan tangan itu di wariskan keahliaanya kepada generasi penerus....
Di daerah pinggiran sungai juga banyak ibu ibu yang berprofesi sebagai pembuat kemplang ,kerupuk, empek empek asli buatan kayuagung yang rasanya paling khas dan hanya ada di kota kayuagung.
Di kayuagung juga terdapat beragam makanan khas, minsalnya tempoyak ,pergedel , model,tekwan, pindangan kayuagung, walaupun aku nggak suka makan pindang tapi aku tau loh makanan khas kayuagung,hiks ....hiks.... dan masih bnayak lagi deh yang lainya .

Garis Besar Bahasa Kayuagung

Orang : Jime
Kita : Owam
Aku : Onyak
Bapak : Ubak
Mama : Umak
Kakak : Bakas
Nenek : Niyai
Kau : Niku
Gila : Lawang
Capek : Hongas
Pulang : Mulang
Sini : Dije
Telanjang : Bintong
Makan : Mongan
Minum : Nginom
Hidup : Huek
Mati : Padom
satu : Osai
Pergi : Laju
Main : Musek
Ketawa : Mahe
Nangis : Miwang
Gatal : Gatol
gigi : Kodes
Mata : Mate
Hidung : Iyong
Besar : Balok
Kecil : Ronek
senang : Ladas
melamun : junon
mau : Hage/domon
ada : uwat
tidak ada : mak omet
kesal : kosol
jelek : Hajap
Bagus : Holow/cindo
Dapat : mangse
kangen : ngiam
susah : joreh
enak : bangek
tidak enak : mak bangek
banyak : bosai
Dikit : cutek
nyamuk :nyek-nyek
Kanji/ genit : tudow
lebaran : bebuke
lepas : pacol
erat : orot
Bau : Ombow
harum /wangi : horom
tidur : tuwoi
bangun : miah
Pegal : Pogol
tidak : Homak
apa : onyi
iya : oyo
nanti : na'on
sebentar : sebowai
lama : muni
Putih : Handak
Hitam : harong
Baju : Kawai
Celana : seluwar
Panjang : tojang
Pendek : mobah
Tidak Tau : Mak pandai/mak nalom
Makanan : Okanan
Minuman : inoman
PErut : Botong
Pedih : podeh
Bahagia : sonay
Merah : Suloh

Susah-susah gampang

rata orang lucu kalo mau belajar

tapi asyik kok' bahasanya lucu...

apalagi logatnya......

hehehehe

Semoga banyak pengetahuan yang bisa kamu dapet...........

Sekali lagi saya katakan "ONYAK JIME OWAM".........

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More